Wow! ,Ritual Aneh dengan Menjalankan Mayat Sebagai Adat Istiadat

Kabar ini sempat membuat heboh dunia maya lebih dari satu selagi silam. Tidak cuma forum-forum di Indonesia, namun terhitung forum-forum internasional mengulas fenomena “zombie” dengan kata lain mayat berjalan ini. Beberapa sarana online interasional besar di berbagai negarapun tidak dambakan ketinggalan untuk memberitakan budaya unik Indonesia satu ini.

Apakah sebenarnya target dari budaya ini? Apa yang dilakukan para masyarakat lokal sehingga para mayat dapat berjalan seperti orang hidup? Apa saja ritual unik yang dikerjakan untuk menyebabkan mayat-mayat ini berjalan? Berikut kita bahas secara mendalam formalitas Ma’mene; rutinitas memulangkan mayat ke kampung halamannya.

Ritual Manene merupakan rutinitas unik. Ritual ini dilaksanakan untuk mengganti pakaian jenazah yang usianya menggapai puluhan hingga ratusan tahun. Ritual ini hanya ada di Toraja, Sulawesi Selatan.

Ritual Manene cuma dijalankan oleh warga Dusun Rante Tanga Tondok, Desa Pangala, Kecamatan Rindingallo, Kabupaten Toraja Utara. Ritual dilakukan, pada Selasa 30 Agustus 2016. baca selengkapnya karoseri mobil ambulance

Ritual ini merupakan formalitas yang langka, gara-gara hanya mampu ditemukan terhadap suku Roraja yang ada di Roraja Utara.

Dalam ritual kali ini, sebanyak 16 jenazah atau mayat yang udah berusia puluhan tahun, bahkan ratusan tahun dikeluarkan dari patane atau liang batu (kuburan batu khas suku Toraja). lihat berita terkini keranda jenazah rumah sakit

Kemudian, ke-16 jenazah yang terdiri berasal dari dua rumpun keluarga, yakni rumpun keluarga Nek Kendek sebanyak 13 jenazah, dan rumpun keluarga Nek Sulu sebanyak tiga jenazah dimandikan.

Puncak ritual kebiasaan unik mengganti busana jenazah dan mayat terjadi ini berjalan hari ini, Rabu 31 Agustus 2016 yang dapat lebih terlalu memukau mata para pemirsa, memandang keunikan adat istiadat yang ada di Indonesia.

  1. Tradisi yang Sudah Ada Sejak 1905
    Kisah ini konon di mulai kala tersedia seorang pemburu bernaa Pong Rumaesk yang hidup di Toraja ratusan th. silam. Ketikan itu, dia berburu dan masuk ke hutan di kawasan Pegunungan Balla. Hutan berikut sebenarnya dikenal benar-benar seram. Ketika sedang di dalam perburuannya, Rumasek lihat sesosok jasad yang tergeletak di sedang hutan begtiu saja dengan suasana yang mengenaskan.

Karena tidak tega melihat keadaan yang mengenaskan itu, Rumasek membungkus si mayat bersama pakaiannya supaya muncul lebih layak. Sejak itu, Rumasek tetap merasa diikuti oleh arwah dari sang mayat. Bahkan, dia digiring oleh si arwah menuju tempat perburuan yang bagus. Sejak saat itu, Rumasek dan rakyat Toraja sepakat bahwa mayat mesti dimuliakan meski cuma berwujud tulang belulang.

  1. Diadakan Sehabis Panen Besar
    Di seluruh daerah di Indonesia, tentu ada tradisi tertentu yang dijalankan untuk menghormati arwah leluhur pasca panen. Begitu pula dengan rakyat Toraja. Setiap bulan Agustus, mereka mengadakan upacara Ma’nene, sebagai perwujudan penghormatan kepada mereka yang telah meninggal dunia.

Selain untuk menjunjung leluhur, rakyat termasuk yakin bahwa ritual ini dapat memberi mereka keuntungan, seperti keuntungan yang pernah didapatkan oleh Rumasek. Ritual ini dipercaya bisa membuat hasil panen menjadi berlimpah dan segala bisnis ternak akan sukses.

  1. Diadakan Agar Bisa Kawin Lagi
    Jika seorang suami ditinggal istrinya meninggal dunia, maka sang suami tidak berhak untuk menikah ulang hingga dia melaksanakan upacara Ma’mene. Peraturan ini juga berlaku sebaliknya. Karena, kecuali ritual Ma’mene belum dikerjakan maka mereka masih dianggap sebagai suami istri yang sah.

Ketika ritual Ma’mene sudah dilakukan, maka pihak yang ditinggal udah resmi menjadi bujangan dan boleh menikah lagi. Ritual ini masih konsisten dipertahankan warga dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang Toraja.

  1. Jenazah Tidak Boleh Bersentuhan Langsung bersama Tanah
    Dalam ritual Ma’mene, jasad tidak boleh ditaruh di tanah. Karena itu selama prosesi penguburan, keluarga dari si jenazah akan selalu memangku jenazah tersebut. Bersentuhan dengan tanah dikhawatirkan dapat membuat jasad selanjutnya menjadi rusak dan tidak murni lagi.

Jasad umumnya akan dipakaikan pakaian kesayangannya sepanjang hidup, dimasukkan ke di dalam peti yang telah dialasi bersama kasur lantas dimasukkan ke gua. Gua tersebutlah yang diyakini merawat mayat-mayat agar tidak membusuk.

Menurut Tampubolon, (45), anak ketua kebiasaan setempat, kemungkinan ada semacam zat di gua itu yang khasiatnya dapat mengawetkan mayat manusia. ìKalau saja ada pakar geologi dan kimia yang berkenan membuang selagi menyelidiki tempat itu, sepertinya teka teki gua Sillanang bisa dipecahkan,î kata Tampubolon, dikutip dari website National Geographic Indonesia.

  1. Memulangkan Mayat Ke Kampung Asalnya
    Dalam kebiasaan orang Toraja, seseorang perlu dimakamkan di tanah kelahirannya. Namun, kerap kali tanah kelahiran orang Toraja sangat jauh dari tempat dia meninggal. Untuk menempuh jarak tanah kelahiran tersebutpun sangat sukar gara-gara tidak mampu diakses transportasi.

Disinilah seorang tetua rutinitas berperan untuk melaksanakan upacara Ma’mene. Dalam ritual ini, mayat bakal diambil alih dari petinya, dimandikan, diberi baju yang baru dan dipapah terjadi menuju kuburan di tempat asalnya. Di sinilah fenomena mayat terjadi terlihat.

Ma’mene memang terlihat menyeramkan dan membuat merinding, tapi itulah keliru satu produk budaya Indonesia yang dibicarakan di banyak negara. Karena keunikan ini, banyak turis yang singgah ke Toraja untuk menikmati keeksotisan budaya setempat. Selain itu, Toraja termasuk terkenal dengan kopinya yang memiliki kualitas luar biasa.

Sebagai generasi muda, kami mesti senantiasa melestarikan budaya dan menghormati kearifan lokal. Seunik dan seaneh apa-pun budaya itu, ini adalah keliru satu wujud dari anugerah karena kami tinggal di bumi yang kaya akan budaya bernama Indonesia.

Back to Top