Anak Yang Sekolah, Orangtua Yang Sibuk Bagian 2

Anak Yang Sekolah, Orangtua Yang Sibuk Bagian 2

originals.id – Bila anak belum mampu membuat jadwal belajar sendiri, bantu ia untuk menyusunnya. Ingatkan ia setiap hari untuk mematuhi jadwal belajar tersebut. Ketika jadwal belajar ini sudah menjadi rutinitas, orangtua tinggal melakukan re-check saja. “Seperti halnya anak belajar naik sepeda, pada awalnya ia masih perlu dipegangi dan dimotivasi. Setelah itu, anak bisa dilepaskan untuk mengayuh sendiri. Begitu pula dengan belajar.” jelas Yeti.

3. Tunjukan bahwa belajar tidak mengenal batasan umur dengan menjadi panutan baginya. “Kakak mengerjakan PR ya, Mama duduk sini baca buku ini.”

4. Berikan kesempatan pada anak untuk melakukan aktivitas belajarnya sendiri. Biarkan ia belajar sambil mendengarkan musik, bila memang suka. Belajar pun tak harus di meja belajar tapi bisa juga dilakukan di ruang tengah, dan lainlain.

5. Jelaskan manfaat dari satu materi pelajaran. “Mama dulu pernah lo, hampir rugi waktu belanja di supermarket. Harusnya Mama bayar 100.000 rupiah tapi kasirnya minta Mama membayar 150.000 rupiah. Terus Mama hitung lagi. Untung saja Mama bisa berhitung cepat, jadi Mama tidak rugi. Itu salah satunya gunanya kita belajar matematika!”

6. Meskipun anak sudah mandiri dalam belajar, bukan berarti anak dilepas begitu saja. Ada saatnya anak butuh dibimbing secara intens. Misalnya ketika menghadapi pelajaran atau pekerjaan rumah yang sulit.

7. Setiap anak selesai belajar, beri ia kesempatan melakukan hal-hal yang menyenangkan, membaca komik, menonton teve, dan sebagainya. Good luck, semoga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang selalu mau belajar.

Ini Alasan Anak Malas Belajar

Bila belajar belum menjadi kebiasaan, mungkin ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya.

* Belum tumbuh motivasi untuk belajar.

* Tidak tahu mengapa dirinya harus belajar (pentingnya belajar) atau tidak memahami manfaat dari setiap materi pelajaran yang dipelajarinya serta tumbuhnya pengalaman bahwa belajar bukan pengalaman yang menyenangkan baginya.

* Metode belajar yang monoton, tugas-tugas yang tidak menarik, orangtua yang terlalu memaksa, dan lain-lain.

* Anak tidak tahu bagaimana cara belajar yang baik, karena orangtua tidak memberikan bimbingan tahapan-tahapan belajarnya seperti apa sehingga anak tidak bisa memahaminya.

* Orangtua sekadar menyuruh anak belajar tanpa mencontohkan dan mengajarkan caranya seperti apa. Bila belajar bukan menjadi kebiasaan, dikhawatirkan anak jadi kehilangan rasa percaya dirinya setiap menghadapi tugas yang sulit, selalu menuntut bantuan dari orang lain, atau yang paling negatif, mengambil jalan pintas seperti menyontek.

Back to Top